Selasa, 31 Mei 2011

THERE IS NO PRIVATE IN SOCIAL NETWORKING

Merambahnya pengguna social networking kedua setelah facebook, twitter membuat banyak pakar-pakar multimedia mulai membahas tentang etika bersopan santun didunia maya termasuk salah satunya; Aturan yang ditujukan kepada pengguna Twitter. Yup, dalam atrikel tersebut yang saya baca (Artikel yg juga saya dapat dari twitter), salah satu poinnya adalah “Hindarilah segala macam keluhan atau celaan terhadap : Bos, Klien atau Perusahaan jika anda adalah seorang karyawan.” Karena menurut artikel tersebut, dalam dunia Twitter, apapun yang anda tulis otomatis akan menjadi konsumsi publik. Walaupun akun anda diproteksi!

For your information, Akun saya sudah di protect sejak pertama kali saya bergabung di twitter. Dan saya juga sudah men-Select follower saya yang jumlahnya dari 394 menjadi 73. Artinya, akun saya benar-benar untuk orang yang dekat saja. Tapi ketika saya men-Tweet tentang sesuatu, bagaimana tweet tersebut bisa saya temukan saat saya mencoba-coba googling hanya dengan 1 kata. (Bukan 1 kalimat!).


Ya, jadi contoh simplenya begini :
Seseorang yang mem-protek akunnya dan men-select followernya seperti saya, menulis sesuatu di akunnya.
@Seseorang : WHATTHEHELL! Blom gajian udah tanggal segini. Perusahaan macam apa ini??? F***!)*
*Melanggar etika di twitter.

Kemudian dibales oleh temannya si Seseorang tadi, yang akunnya juga privat, tapi tidak men-select followernya.
@TemanSeseorang : Sabaaaar, Say.. RT @Seseorang : WHATTHEHELL! Blom gajian udah tanggal segini. Perusahaan macam apa ini??? F***!)*

Dan kemudian, teman dari temannya seseorang ini, ikut dalam pembicaraan mereka. Yang akunnya tidak diprotek dan followernya juga.
@TemanDariTemanSeseorang : Perusahaan mana tuh?? RT @TemanSeseorang : Sabaaaar, Say.. RT @Seseorang : WHATTHEHELL! Blom gajian udah tanggal segini. Perusahaan macam apa ini???


Naah.. Bukannya tidak mungkin kalimat tersebut menjadi konsumsi publik atau bahkan saat si @TemanSeseorang tadi menulis nama perusahaan Si @Seseorang, hal itu bahkan bisa sampai ke Bos anda, atau bahkan relasi-relasi Perusahaan lainnya mengingat jaringan twitter yang begitu luas. Yang nantinya juga akan berakibat ke anda sendiri, dan Perusahaan anda juga kena getahnya. Hanya karena ungkapan kekesalan yang anda ungkapkan tadi. Ingat, ini baru antara @Seseorang, @TemanSeseorang dan @TemanDariTemanSeseorang. Bukan kah si @TemanDariTemanSeseorang juga mempunyai follower??. Bahkan ketika anda googling dengan key word nama perusahaan tersebut, bukannya tidak mungkin tweet tersebut juga ikut-ikut keluar.

Ya, saya memang sudah memprotec akun saya. Menyaring follower saya menjadi 73 orang saja. Tapi bagaimana dengan teman-teman saya yang berada dalam list 73 orang itu?? Tidak semua akun mereka di protek kan. Dan teman dari teman saya?? Apalagi!

Yeah, that’s right! THERE IS NO PRIVATE IN SOCIAL NETWORKING. Selama yang namanya kita berseliweran di social media, tidak ada yang namanya benar-benar privasi. So you better think twice before you share something. Kini saya sangat-sangat setuju dengan artikel tersebut. So if you wanna share something private, you better get the phone talk to someone you trust or meet you bestfriend, then tell your problem. Dengan keuntungan, TIDAK ADA SATU ORANG PUN YANG DAPAT GOOGLING PEMBICARAAN ANDA.

OK, that’s all. I just wanna share something for you sebelum jam pulang kerja. Semoga bermanfaat yaah..
Thank you for reading. J
*Feel free for remove your name here :)

By Tetra Saputri. Pontianak City, Tuesday 31 May 2011.

Selasa, 19 April 2011

Semuanya gara-gara, "Apa aja bole, udah gede ini.." Wakaka.





Smuanya mungkin gara-gara aku yang terlalu sering dan suka ikut-ikutan ngiseng dengan ngejawab, “Apa aja boleh”, “Kemana aja bole”, “Kapan aja boleh”. Jadi hal itu kebawa sampai ke tempat yang tidak seharusnya.

3 hari yang lalu, saya sedang Interview di salah satu Bank Pemerintah yang bertaraf BUMN. Dari awal sampai pertengahan Interview, semuanya berjalan dengan lancar. Saya bisa menjawab dengan baik dan percaya diri. Sampai mereka juga mengakuinya. Dan bahkan mereka juga mengakui karakter saya yang saya deskripsikan di CV saya. Mereka bilang, “Anda benar-benar memiliki karakter yang kuat dan tegas yaah”. Haha. That’s right! Much people said like that. Dan selain kuat dan tegas, tambahan satu lagi, saya juga : Pinter!

Tapi begitu sampai pada pertanyaan, “Jadi, Apa perkembangan terakhir yang bisa kami ketahui tentang Anda?”. Dan dengan refleksnya saya menjawab, “Apa aja bole..” TOENG! Whatthehell?? Saya sempat terdiam beberapa saat, bahkan mereka juga. Dan kemudian saya melanjutkannya lagi dengan agak sedikit terpatah-patah kata, “Ehem, maksud saya...” Hahaha. Sampai saat ini, saya masih menyesalkan kenapa kalimat itu bahkan lengkap dengan nada ngeyel yang seperti biasa saya ucapkan bisa terlepas begitu saja.

Pontianak City, Tuesday 19 April 2011 at 05.19PM

Senin, 18 April 2011

Tentang KESETIAAN


“KESETIAAN. Tidak bisa direncanakan. Sama halnya dengan hidup seseorang.”
Kira2 begitu bunyi status yang di post oleh salah satu sahabat saya. Waktu pertama kali saya baca, saya langsung protes. Nyaris langsung saya komen, “Kalo saya, saya bakalan setia sampai kapan pun. TITIK!”. Tapi begitu saya baca semua komen2 yang ada distatus itu, mendadak saya terdiam. Apalagi pas saya tanya sama sama orangnya langsung, dia bilang.. “Ya iya lha, emangnya kamu bisa yakin apa, bakalan setia sampe kapan pun. Kan kita ga bakalan pernah tau tentang apa yang terjadi selanjutnya”.. Ow, ow.. Whatthehell?? Bener juga kan. Hemmh, tapi hati saya masih tetep yakin. Saya bisa kok, setia sampai kapan pun. Walau mungkin tidak semudah mulut kita mengucapkannya, tapi kalo dari hati, tentu bisa! Tapi sahabat saya itu tetep keukeuh, bahkan berdebat juga sama saya, dia bilang. “Kita ga bakalan pernah tau!”
Penasaran, saya mulai mengambil survey dengan orang2 terdekat. Orang yang saya jadikan sample adalah salah satu kolega saya yang memang lebih senior dari saya. Baik soal hidup maupun kerjaan. Pertama, saya Cuma minta pendapat tentang status yang di post sahabat saya itu. Kemudian, kolega saya mulai minta penjelasan tentang alasan sahabat saya nulis status tersebut. Saya jelasin sesuai dengan penjelasan sahabat saya, dan kolega saya itu menjawab.. “Iya, emang bener!” GUBRAK! Are this world CRAZY?? Apa Cuma saya satu2nya orang di jagat raya ini yang yakin bisa setia?? Kaget saya dengar jawabannya. Terus, lagi2 saya mulai protes. “Lha kok gitu?? Brarti ga setia, dong!”. Kolega saya menjawab, “Ya kan buktinya dari dulu aja saya ga monoton sama Pacar yang itu2 aja, ganti2. Kamu juga, kan?!”. Saya diam. Kemudian saya nanya, “Emangnya itu yah, namanya setia?”. Trus kolega saya balik nanya sama saya, “Skarang saya tanya dulu, SETIA itu apa??”. Saya diam, buset! Saya juga bingung ditanya soal setia. Lalu dengan asal, saya jawab ; “Setia itu.. Tetap bersama”. Terus kolega saya itu kembali nanya saya, “Yakin??”. Lha kok jadi saya yang balik diwawancarai sih?? (-__-“). Saya ga jawab, masih diem. Lalu kolega saya itu lanjut lagi ngomong;  “Kalo yang namanya SETIA itu TETAP BERSAMA, berarti saya sama istri saya ga setia dong. Iya kan?!”. Saya Cuma diam aja. Terus kolega saya melanjutkan omongannya, “Yang namanya setia itu, dari hati. Kalo udah dari hati setia, biar kayak saya yang kerjanya ke luar2 kota mulu juga, tetap setia. Walaupun saya sedang sama orang lain, tapi hati saya kan udah ada yang punya”. Sedikit lega, hampir sama dengan pendapat saya kan. Setia itu tergantung hati. Kemudian saya tanya, “Berarti, temen saya itu salah dong yah?”. “Enggak, emang bener” lagi2 GUBRAK!
Jadi, kolega saya itu bilang, Kita memang tidak bisa merencanakan tentang kesetiaan. Bukan maksudnya tidak setia seperti yang saya tangkap di awal2 lho. Maksudnya, saat ini kita emang setia. Tapi kita ga bakalan pernah tau tentang apa yang bakalan terjadi selanjutnya. Yaah, sedikit banyak maksud sahabat saya dan kolega saya itu sama. Something like this, “Ketika kita memang benar2 berniat untuk setia sampai kapanpun. Ketika kita sudah mulai STUCK dengan satu orang. Lalu suatu hal yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya terjadi, apakah kita akan tetap memilih untuk tetap setia kepadanya??”. I’ll said, YES! Tapi kemudian, banyak Pro dan Kontra. Ada yang bilang, Setia disitu sama aja dengan menunggu ketidakpastian. Ada yang bilang, setia disitu ga ada gunanya. Tapi ada juga yang bilang, setia disitu termasuk juga orang yang berpendirian kuat. But i guess i’ll never know the truth. Mungkin itu juga alasan sahabat saya post status tersebut, bahkan saya juga pernah dengar Quotes barat yang mengatakan, “Kebohongan yang paling besar adalah ketika kau mengatakan I love you forever kepada seseorang. Mengapa kau begitu yakin mengatakannya, sementara kau sendiri tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.”
What about you?? Kalau saya, saya yakin. Saya adalah orang yang setia! Just wait and see. Selebih dan sekurangnya, Only God knows why..  Haturnuhun nya’ sudah baca Note saya. Feel free to leave a comment kok. Terima Kasih Sebelumnya. Hehehe. J
Pontianak City, Saturday 16 April 2011 at 21.18pm

Jumat, 18 Februari 2011

"FROM BANDUNG WITH LOVE"


Dan demikianlah semuanya harus terjadi,
karena memang semua harus terjadi..

Hidup ini terus berlanjut..

Kita semua pernah mengkhianati dan dikhianati, Setia dan tidak setia..
Kita semua pernah merasakan cinta di tempat tertinggi,
kita lalu merasakan terjatuh karena kesalahan kita sendiri,
kita tidak mati tapi lukanya membuat kita tidak dapat berjalan seperti dulu lagi..



*Quotes from movie
Taken from - From Bandung With Love

Pontianak city. Saturday, 19 February 2011 at 1.01 pm  

Kamis, 17 Februari 2011

cin(T)a



Dear God,
In Your majesty, You create differences.
In my arrogance, I question Your wisdom.
In Your mistery, You create temptation.
In my inferiority, You make me more than i am.

So here i am..

Surender me in the agony of Your love.
Surender me in the irony of Your law.
lead me to the joy of love redivined.
Teach me how to love You more..

Taken from cin(T)a

Friday, 18 of February 2011 11.25am.

Selasa, 15 Februari 2011

Eclipse

Some say the world will end in fire.
Some say in ice.
From what i've tasted of desire, i hold with those who favor fire.
But if i had to perish twice.
I think i know enough of hate,
to say that for destruction,
Ice is also great and would suffice. *Eclipse

Senin, 14 Februari 2011

PENGALAMAN OPERASI GIGI

Yuph, this is it. Kalau kemarin saya share artikel tentang Operasi Gigi (Odentektomi), sekarang giliran saya untuk menceritakan pengalaman saya Operasi Gigi.

Jadi ceritanya, tentang keberadaan gigi impaksi. *Gigi yang gagal erupsi atau gigi abnormal yang tumbuh didalam atau diatas gusi. (Haha. Saya baru tau istilah ini, H2 setelah saya menjalani Operasi gigi), emang sudah lama. Bahkan seingat saya waktu Ramadhan tadi. Ya, Mama saya yang berhasil ‘Ngeh tentang ke’Abnormal’an posisi gigi saya. Yang punya gigi aja enggak. Hehehe. Awalnya, Mama uda bilang, itu gigi kayaknya memang harus dibuang, karena posisinya berada diatas gigi normal dan tumbuhnya miring, dan pembuangannnya (Kayak sampah aja dibuang. Wakakakka) memang tidak bisa hanya dengan teknik mencabut biasa. Tapi harus operasi. Waktu itu sih, saya belum terlalu woried. Malah saya cuek-cuek aja. Saya pikir, mana ada sih gigi yang harus dibuang, kalo emang dia tumbuh, berarti emang kodratnya. (*Pikiran yang sangat pendek. Haha).

Setelah Ramadhan lewat, Idul Fitri juga lewat. Semuamuanya juga lewat. Dan saya juga mulai tenggelam dengan kerjaan yang selalu mengejar-ngejar saya serta berkecimpung dikehidupan saya, Saya sudah mulai lupa tentang keberadaan gigi impaksi ini. Lebih tepatnya, emang saya tidak pernah terganggu. Hehe. Tapi lagi-lagi, Mama saya membawa berita tentang pengalaman teman seprofesi Mama, yang juga memiliki gigi impaksi yang posisinya hampir sama dengan saya. Yuph, gigi yang berada diatas gusi. Yang lebih seramnnya lagi, gigi impaksi itu sudah mulai mencuat keluar hampir menembus bibir. Sehingga tahap pencabutannya dengan cara Operasi Gigi. Dari situ lah saya mulai merasa woried. Bahwa benar, gigi impaksi yang sudah saya pelihara betahun-tahun ini, memang harus dibuang.

Jadi akhirnya, setelah lumayan menunda-nunda saya bertandang juga ke Dokter Gigi. Dokter Gigi yang kebetulan adalah teman dari Papa saya. (*Sebenarnya bukan kebetulan sih, tapi emang sengaja cari yang temen. Haha). Karna saya memang jarang atau lebih tepatnya lagi tidak pernah ke Dokter gigi sebelumnya, jadi saya ga tau sistemnya gimana. Ternyata, harus mendaftar. Dan guess what?? Malam itu daftar pasien udah numpuk sampai minggu depan. Saya dateng jum’at malem, eh.. dapet gilirannya jum’at malem minggu depan. Wakakaka. Untung aja ga kelupaan.
Akhirnya, jum’at malem itu setelah izin pulang awal dari kantor. *Padahal tetep aja ga awal. Jam 5 sore gitu loh! (-__-‘!I). Saya, ditemanin sama Papa saya dateng ke Dokter Gigi yang kemarin. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam karena pasien yang begitu padatnya. (*Bayangin aja, saya dijadwal jam 06.30PM. Saya dateng jam 06.15PM, tapi baru dicek jam 8mlm. Papa saya ja udah sempet jalan-jalan dulu.), akhirnya saya dicek juga. Pas masuk sempet kaget, kok Dokternya cewek, ternyata itu Istrinya yang juga Dokter Gigi. Dokter yang teman Papa saya ini, habis jatoh kecelakaan, jadi untuk sementara digantiin istrinya. Waktu dicek dan menunjukkan gigi ini, Dokter sudah bilang gini.. “Wah, ini posisinya sudah dekat silus. Ga bisa cabut biasa, harus Operasi.” Deg! Operasi?? My knee was shaking. Kemudian Dokter kembali mengecek posisi gigi saya. Lagi-lagi dia bilang, “iyah, ini posisinya udah ga normal. Harus Operasi. Harus ke Dokter Spesialis. Karna udah bukan cabut gigi biasa”. I felt so shocked! Trus saya tanya, “Emang Operasinya kayak gimana sih, Dok?”. Dokternya jawab, “Bukan Operasi besar, Operasi kecil aja. Itu nanti gusinya harus dibelah dulu. Yaah, palingan ada 1 jahitan lah”. Dan saya ingat sekali, Dokter itu mengucapkannya dengan santai. Yah, bawaan Dokternya ramah dan baik banget sih. Mungkin tujuannya supaya saya ga takut. Tapi yang ada malah saya takut banget. (*Saya baru merasa, ternyata saya bisa takut juga yah, operasi. Wakakaka). Mungkin saat itu wajah saya udah pucet. Hehe.

Terus dari situ, saya disarankan rontgen dulu. Biar posisi giginya jelas. Karna gigi saya ini memang benar-benar abnormal. Saya lalu dirujuk ke BP gigi untuk rongten. Dan dirujuk ke RS Negeri untuk Operasi. Saat itu, Dokter sempat juga nyaranin ke Dokter Spesialis yang temannya juga. Tapi katanya disitu mahal. Jadi saya disaran kan cek ke Option B dulu. Ke RS.

Besoknya, saya langsung ke BP Gigi untuk rontgen. Tapi ternyata, hari sabtu tutup. Dan saya datang kembali hari senin, setelah sebelumnya izin telat kekantor. Setelah menjalani proses administrasi, sampailah saya diruang radiologi. Wadoh! Saat itu juga saya merasa cemas. Tar saya bakal diapain yah diruangan ini. Secara melihat alat-alat yang aneh dan lumayan menyeramkan. Haha. Untuk Abang petugasnya baik dan ramah banget. Ya, mungkin karna udah melihat muka saya yang cemas. Hahaha. Ternyata malah proses rontgen’nya lebih cepat dari yang saya bayangkan. Hanya perlu beberapa menit, bahkan mungkin ga nyampe 1 menit. Prosesnya selesai. Saya hanya didudukkan dikursi yang disambungkan dengan alat dari arah kanan atas yang mengarah ke mulut saya, kemudian.. Tring. Abang itu langsung bilang, “Udah selesai Dek.”. sambil menunggu hasil rontgen, saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan Abang yang superduper ramah dan gokil itu.

Dari hasil foto, emang jelas kalo posisi gigi saya sangat-sangat abnormal. Miring kekiri dan dengan posisi akar yang melintang kesamping. Setelah hasil foto berada ditangan. Hal yang saya pikirkan selanjutnya adalah, waktu buat operasi. Secara saya yang selalu dikejar-kejar deadline di kantor. (*Bahkan ga pernah ga dikerjar deadline kayaknya), dan saya juga ga mau plan holiday saya dan teman-teman batal gara-gara saya harus istirahat. Akhirnya, setelah kompromi dengan orang rumah dan sahabat-sahabat, saya tentukan besok saya langsung plan buat operasi. Karna saya pikir, toh lebi cepat lebi baik. Waktu emang sudah ditentukan, tapi masalah kedua, saya masih blom mutusin buat operasi dimana, di RS atau di Dokter spesialis. Hari senin itu, saya sempat ngomong-ngomong dengan teman sekantor saya yang temannya pernah ngalamin operasi gigi. Dia yang nyaranin saya, supaya ambil operasi ke Dokter Spesialis aja. Memang mungkin mahal. Tapi lebih terjamin daripada ke RS yang kita belum tau Dokternya seperti apa. Dan Ortu dan sahabat-sahabat saya juga setuju. Akhirnya, setelah membereskan pekerjaan yang menjadi deadline. Hari selasa malam, saya langsung ke Dokter Spesialis yang disarankan oleh Dokter yang pertama saya datengin. Disitu prosesnya lebih simple. Pasien dateng dan langsung didata. Saat itu, saya masih niat buat konsul dulu. Karna siapa tau aja, ternyata Dokter Spesialis ini bilang ga perlu dicabut, kan Alhamdulillah. Hehehe. Ga lama, saya ketemu langsung sama Dokternya. Dokternya ga kalah ramah dan baik banget ternyata. Guess what?? Ternyata emang udah nasib saya harus operasi. Malah Dokternya bilang gini, “Takutnya ntar kalo ga di Operasi, giginya tumbuh nembus kedalem”. Halah! Ni Dokter nakut-nakutin aja. Muka saya saat itu mungkin sudah lebih pucet lagi. Apalagi pas saya nanya, “Jadi kira-kira kapan Dok, bisa Operasi?” Dokter bilang, “Besok bisa, nanti saya hubungi yaah”. Kemudian saya meninggalkan nomor saya, biar nanti dihubungi.

Besok pagi, saya udah izin kerja. Buat istirahat. Padahal sebelumnya saya pengen kerja setengah hari dulu. *Untung pada akhirnya saya mengambil keputusan istirahat sebelum operasi. H2 setelah saya operasi, saya baru tau kalo sebelum operasi, pasien memang diharuskan istirahat dan tidak beraktifitas sama sekali. Bahkan untuk melakukan kerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi aja ga boleh. Karna berhubungan dengan saraf, takut efeknya ke pendarahan. Huff.. Thx God.

Beberapa jam sebelum operasi, (*Saya operasi jam 5 sore) I feel woriying so much. Bahkan mungkin afraid banget. Untung-untungan bisa tidur siang. Haha. Saat itu saya benar-benar sangat takut. Ya iya lha, namanya juga operasi. Walau operasi kecil kan, ujung-ujungnya juga dijahit. Saya udah menghayalkan yang enggak-enggak. Gimana bibir saya nanti? Gimana saya makan? Berapa hari saya ga bisa kerja? De el el.
And finaly.. That time! Wednesday, 26 Januari 2011.

Jam 5 sore, saya berangkat dari rumah. Ditemani Paman saya. Sampai disana. Saya sudah disapa dengan ramah sama Dokternya. “Halo Tetra, gimana kabarnya? Udah siap Operasi kan?” Eeaalhaaa.. Saat itu saya Cuma bisa senyum doang. Saya Cuma menjawab dengan pertanyaan, “Lama ga Operasinya, Dok?” Dengan sangat ramah, Dokter bilang “Ah enggak juga, Kok.”

Kemudian saya mulai ditempatkan keposisi Operasi. Posisi saya baring, dengan lampu yang menyorot kearah mulut saya. Sekali lagi, posisi gigi saya dicek. Dan memang benar kenyataannnya posisi gigi ini lumayan sulit. Setelah Dokter memperlajari foto gigi dan keadaan gigi saya secara nyata. Operasi pun dimulai.
Jeng.. Jeng.. (*Musik ala sinetron. Wkakakakaa)

Pertama, saya disuntik obat bius. Inilah untuk pertama kalinya saya kembali melihat suntikan. Whew! Obat bius yang disuntikkan lumayan banyak. Dan saat itu saya memerlukan 2 tempat suntik untuk obat bius. Satu tepat didekat posisi gigi impaksi saya, satu lagi disuntikkan dari dalam kearah rahang atas. Dan rasanya... Nyiiiikk.. Banget. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya ga pernah disuntik. Ampuun.. sakit banget! Siapa yang bilang suntik kayak digigit semut? Heemmh, saya tidak setuju sama sekali! Setelah disuntikkan obat bius, saya dibiarin beberapa menit. Supaya obat biusnya bekerja. Yap, saat itu.. saya tidak merasakan separo dari muka saya. Separo bibir saya juga mati rasa.

Kedua, setelah obat bius bekerja. Pengoperasian pun dimulai. Saat itu saya ga bisa tau persis apa yang sedang dikerjakan. Karna saya ga bisa merasakannya, obat bius bekerja dengan baik. Palingan saya cuma capek membuka mulut. Karena diharuskan membuka mulut dalam waktu yang sangat lama. Agak lama juga gigi saya baru bisa diangkat. Mungkin karna posisnya yang sulit. Bahkan Dokternya beberapa kali mengganti tang dan alat-alat lainnya untuk mencabut gigi saya. Yang saat itu saya bayangkan, entah gimana sakitnya kalau ga pake obat bius yaah.. Haha. Mungkin saya bakalan menjambak-jambak rambut si Dokter. Ato bahkan kepalanya si Dokter. Wakakaka. Beberapa kali proses pengambilan gigi, lumayan gagal. Waktu saya disuru kumur-kumur, saya sudah bisa melihat darah-darah segar yang keluar dari air yang saya kumur. Saat itu saya berkata, God.. Untung saya ga bisa liat prosesnya. Dan untung juga saya ga bisa merasakan prosesnya.

Beberapa menit berlalu, gigi saya belum juga bisa lepas. Dokter bilang, mungkin akar giginya yang masih nyangkut. And I was so affraid. Ni gigi bisa lepas ga sih.. Saya sudah berdoa-doa dalam hati. Dan sesaat saya merasa ada yang meleleh dari tepi bibir saya, refleks saya langsung ngambil tisu dan mengelapnya. God, you know what? Ternyata itu darah segar yang mengalir dari mulut saya. Lemes rasanya liat darah sendiri. Dan after that, saya disuruh kumur-kumur lagi. Sampai benar-benar ga ada darah segar. Terus Dokternya bilang, “Akar giginya bengkok. Makanya sulit lepas”. Saya cuma diem aja. Udah panik dan takut banget. Tapi ga lama, Dokter ngeliatin giginya. “Nih.. Akarnya yang bengkok. Makanya harus dicabut, takut ntar nusuk kedalem” dengan reflek saya bilang, “Jadi giginya udah lepas, Dok?” Dokter bilang, “Udah kok” Hahaha. Alhamdulillah..

Tahap ketiga, penjahitan.
Sebelum dijahit, saya sempet ditawarin buat ngeliat bolongan yang ada digusi saya. Kata Dokter lumayan gede. Takut sih sebenarnya buat ngeliat, tapi karna penasaran saya liat juga. Yap, that's right. Lukanya gede banget. Dan masih berdarah. Ouch! Dokter bilang, lukanya gede. Jadi harus 2 jahitan. Karna obat bius masih bekerja, jadi ga kerasa juga waktu dijahit. Palingan waktu narik benangnya doang. Setelah selesai semua proses, bekas operasi tadi disempal dengan kapas yang ada obat penghenti darahnya.

Alhamdulillah, operasi akhirnya selesai. Kurang lebih 40menit dengan 2 jahitan. Terus saya dikasi antibiotik dan paracetamol. Dalam perjalanan pulang, saya udah mulai khawatir. Gimana rasanya saat efek bius itu udah ilang. Huhuhu. Ternyata benar sekali pemirsa.. 1 jam setelah proses operasi, saya mulai merasakan sakit yang sangat luar biasa. Ampuuunn... deh. Saya cuma bisa baring-baring doang. Saya langsung buru-buru makan, untuk kemudian minum obat, dan kembali berbaring. Bekas operasi juga masih mengeluarkan darah segar.

Malam setelah operasi sangat-sangat menyiksa. Bayangin aja, saya ga bisa tidur dengan posisi miring ke kiri atau kekanan. Bahkan buat telentang saja, leher belakang harus diganjel dengan bantal. Dan dagu saya juga diganjel bantal. Supaya posisi mulut dan rahang saya agak naik. Sangat sulit buat tidur malam itu. Untung efek obat bikin saya cepat terlelap.

Hari Pertama, setelah Operasi. Hari itu saya udah mulai izin kerja. Begitu saya bangun, ngenyut semakin jadi. Saya gak bisa senyum, sulit ngomong, makan apalagi buat ketawa. Sangat-sangat sakit. Saya ga bisa makan pake sendok, hanya bisa pake garpu. Karna mulut saya maksmal hanya bisa kebuka segede garpu doang. Dan bahkan tubuh saya sudah mulai memberikan efek yang tidak baik. Yuph, hari pertama setelah operasi, saya demam. Dan perasaan sangat-sangat tidak enak. Sepertinya tubuh saya sudah mulai menyadari akan adanya benda asing yang ditanamkan. Agak lama juga saya baru bisa bangkit buat mandi. Karna ngenyut yang semakin jadi. Tapi Alhamdulillah, perndarahan sudah berhenti. Dan setelah minum obat, demam perlahan mulai hilang. Begitu juga dengan ngenyut yang terasa. Saat mulai enakan, saya merasa bosan. Yaa, mungkin karena sudah terbiasa dengan kerjaan yang dikejar-kejar anjing. Jadi begitu saya harus stay di rumah. Saya merasa mati gaya. Hahaha. Jadi saya mulai kegiatan dengan membereskan rumah. Setelah membereskan rumah, saya lanjut ngemasin kamar saya. Membersihkan debu-debu yang ada diatas lemari, membereskan lemari, totalnya membereskan kamar saya yang setengah sudah seperti sarang kuntilanak itu. Setelah selesai, saya merasa senang. Saya pikir, tidak sia-sia juga kan saya stay dirumah. Tapi tak lama setelah saya beres-beres, saya kembali merasakan perasaan tidak enak itu lagi. Bekas operasi kembali ngenyut, dan bahkan saya demam, dan yang lebih parahnya lagi, pandangan saya berkunang-kunang.

Efek negatif dihari pertama kemarin, membuat saya untuk istirahat total dihari kedua. Ya, pada hari kedua pasca operasi itu, saya Cuma baring-baringan sambil nonton tv. Demam saya juga semakin jadi, ditambah dengan pandangan yang berkunang-kunang dan yang paling aparah, ada pembengkakan dipipi tepat disebelah Operasi. Dan setiap saya bangkit, saya selalu sedikit mengambang. Siang menjelang sore dihari kedua itu, iseng-iseng saya browsing di internet, cari-cari penjelasan tentang Operasi Gigi dan pengalaman-pengalaman orang-orang yang operasi gigi. Dan akhirnya, saya tau penyebabnya mengapa saya mengalami efek buruk dihari kedua itu. Begitu saya baca artikel dari salah satu Blog Dokter, disitu dijelaskan bahwa Pasien Pasca Operasi Gigi disarankan untuk istirahat total selama 3-4 hari. Hahahha. Istirahat total selama 3-4 hari pasca Operasi?? Sedangkan saya? 1hari pasca operasi aja udah beres-beres kamar. Ckckck. Sok tau banget!

Hari ketiga, demam sudah mulai tidak terasa. Dan tidak ada pembengkakan lagi. Tapi gantinya, seluruh gigi saya yang ada dibagian rahang atas ngilu tak tertahankan. Jadi saya Cuma bisa sedikit beraktifitas seminimalis mungkin. Sisanya Cuma baring-baring doang. Dihari ketiga, ketika rasa ngilu itu berhenti, saya mulai agak sedikit bandel. Hehe. Ceritanya kan saya masih ga boleh makan yang keras-keras, ga boleh makan yang panas-panas, minum yang panas atau yang dingin, yang pedas-pedas dan ga boleh buka mulut yang terlalu lebar, jadi saya Cuma makan nasi benyek, telur dan sayur-sayur gitu. Bosen dong. Hari sabtu itu, saya tiba-tiba kepengan nyicipin nasi goreng buatan adik saya. Saya pikir, toh juga Cuma sedikit. GPP dong. Tapi ternyata pemirsa, yaah.. mungkin karna salah saya juga, makan sambil browsing internet ngeditin blog saya. Alhasil ngunyah ga konsen, daaaann.. masuk lah sebutir nasi kedalam gusi yang bekas operasi itu. Uuuhhhh.. rasanya ngilu dan sakit Anguzubille.. saat itu ingin teriak sekeras-kerasnya. Aaaaakkkhhhhh!!!!! Panik banget, mana udah sakit lagi. Untung kemarin sempet baca pengalaman orang pasca operasi dengan kejadian yang sama. Jadi perlahan-lahan, saya kumur-kumur kearah gusi yang bekas operasi itu, Alhamdulillah.. dengan beberapakali kumur, akhirnya tu nasi keluar juga. Hasilnya.. Kembali ngilu. Hahahhaa.

Dihari keempat udah agak lumayan, tapi saya janji ga mau bandel lagi. Hehehe. Pas bangun, lumayan agak ngilu sih. Mungkin karena saya tidurnya kearah kiri. Jadi narik otot-otot yang bekas operasi itu. Tapi, lumayan lah.. enggak sengilu kemarin. Cuma masih ga bisa buka mulut yang lebar. Masih ga bisa ketawa. Dan senyum juga masih sakit. Kaku juga rasanya.

Hari kelima, saya udah masuk kerja. Udah lumayan lha, walaupun ngomong masi kayak orang cadel. Dan ga bisa ketawa. Yang ada malah di kantor saya digosipin ompong lagi. Huhuhu. Pas masuk, yaah.. seperti yang saya diperkirakan banyak yang nanya hini hitu. Sakit ga? Uda bisa makan blom? Diapain aja? Yaaah, gitu deh. Udah saya cadel, eh.. banyak yang wawancara lagi. Hahaha. Menjelang siang, tiba-tiba ngenyut. Sempat mikir juga, ni gara-gara banyak kerjaan apa? Soalnya gara-gara cuti 4hari, jadinya pas hari senin itu langsung brek! Ditimpa kerjaan yang segunung. Hadewh! Untung aja ga memerlukan penjelasan. Kalo ga, walah-walah.. bakalan ribet. Untung ngenyutnya cuma bentar. Setelah makan siang, ngenyutnya juga hilang. Bahkan hari itu saya kerjanya sampe jam7an malem. Alhamdulillah sih, udah ga ada keluhan yang berat.

Tengah malem kan saya ditelpon sampe 1 jam'an gitu. Saya baru Ngeh. Setelah saya yang dengan semangatnya ngoceh ditelpon selama 1 jam, saya langsung ngerasa mulut ga kaku lagi. Uaah bisa ketawa. Udah bisa senyum lebar. Aih, mungkin emang butuh olahraga kali yah. Jadi besoknya saya putuskan makan kembali seperti semula. Hahaha.
Ternyata benar. Hari selanjutnya. Saya sudah ga merasa keluhan lagi. Kerja udah bisa maksimal. Udah bisa ketawa lebar. Gosok gigi udah nyaman. Yang ngejanggal cuma benang jahitnya aja. Kadang-kadang masih kerasa kalo kesenggol bibir. Tapi, so far very good lha. Alhamdulillah. Sembuhnya lebih cepat dari yang saya khawatirkan.
Akhirnya, sampai juga pada waktunya lepas benang jaitan. Haha. It takes too long to wait. Karna ada Perayaan dan sebagainya, jadi Apotiknya tutup. Dan juga tempat prakteknya tutup. Bahkan amu sempet melewati liburan bersama teman-teman, dengan 1 benang yg masih tertanam digusi. Hahaha. Karna satunya udah sempet putus waktu gosok gigi. Proses buka jaitan ga lama, bahkan Cuma kayak merem doang, habis itu. Tring.. kebuka deh. Hehehe. Terus dikasi Betadin. Udah, selesai.
Sekarang semuanya udah berjalan sempurna, Alhamdulillah.. Bahkan ada yang bilang, sekarang kalo difoto, aku selalu nunjukin gigi aku. Dan katanya, gigiku emang bagus. Hahaha.

Yeah, that’s was an amazing experience. Buat semua yang akan atau berniat operasi, silahkan aja. Ga separah yang kita bayangin kok. Asal emang betul-betul cari dokter Gigi yang spesialis, dan yang udah recommended by other people. Jangan yang sembarangan yah. Last but not least, Big thx to Drg Machfuddin. Dokter gigi yang sangat-sangat baik dan PERFECT!, to my fam yang men-special kan aku selama aku baru Operasi dan membiarkan aku istirahat, my best friend yang selalu kasi aku semangat. Haha. Finaly, semuanya berjalan sesuai rencana. We’ve got our amazing hiloday, right?? Dan buat Kolega serta Bos di Kantor, yang udah mengizinkan aku cuti 4 hari. Thx ALL. Semoga tulisan ini berarti dan bermanfaat bagi semuanya. HAVE A NICE SMILE! :D

Pontianak City, 13 February 2011. At 1.34PM
By Tetra Saputri